Thursday, February 14, 2008

IMAN DAN RASA MALU

“Iman mempunyai enam puluh atau tujuh puluh cabang lebih. Pangkal utamanya ( akar tunggang Iman ) ialah pandangan hidup “Laa Ilaaha Illallah”, dan yang paling rendah ( rantingnya Iman ) ialah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah satu cabang dari Iman“ ( Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim )

A. Rasa Malu sebagai Cabang Iman

Sabda Nabi di atas memberikan gambaran tentang cabang-cabang dan ranting Iman yang tumbuh di atas pangkalnya. Ibarat sebuah pohon, yang terdiri dari akar, cabang dan ranting. Pandangan dan keyakinan hidup dengan rumusan “Laa Ilaaha Illallah” ( = Tiada “Ilah” selain Allah ) adalah merupakan akar tunggang atau pangkal utama dari “pohon Iman” itu. Itulah “Kalimah Tauhid” atau “Kalimah al-Haq”. Sedangkan cabang-cabangnya atau manifestasi Iman dalam wujud sikap dan perilaku Mukmin begitu banyak, hingga mencapai 60 atau 70 cabang lebih. Salah satu cabang Iman yang begitu penting ialah Al-Hayaa ( Rasa Malu ). Inilah yang akan kita pahami lebih lanjut. Pada Hadits di atas dikemukakan pula satu contoh ranting Iman, sebagai akhlak paling sederhana, yaitu “menyingkirkan duri dari jalan”. Walau sederhana tapi mempunyai nilai sedekah, sesuai sabda Nabi Saw pada Hadits lain, yang artinya : “Singkirkanlah duri dari jalan, maka dengan itu kamu sudah bersedekah” ( H. R. Bukhari ). Menyingkirkan duri atau gangguan dari jalan mengandung makna yang lebih luas yaitu mengajarkan pentingnya kebersihan, kenyamanan, dan ketertiban lingkungan. Nabi pun bersabda : “Menjaga kebersihan adalah bagian dari Iman”.



Cara Nabi Saw menjelaskan Iman dengan mengaosiasikan kepada sebuah pohon yang tak asing bagi manusia adalah merupakan aktualisasi dari cara Allah menjelaskan masalah yang sama. Coba kita perhatikan Firman Allah dalam Surah Ibrahim ( Q.S. 14 ) ayat 24 – 25
“(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan “Kalimah Thoyyibah” seperti “pohon yang baik” ; akarnya teguh ( tertanam kuat ) dan cabangnya ( menjulang ) ke langit. (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia supaya mereka selalu ingat. “

Pada ayat berikutnya Allah menggambarkan “Kalimah Khobitsah” sebagai kebalikan “Kalimah Thoyyibah” yang digambarkan bagaikan “pohon yang buruk” ( ayat 26 ). Sedangkan orang-orang beriman konsisten pada “Kalimah Thayyibah” dalam bidang duniawi maupun ukhrawi ( ayat 27 ).


”(26) Dan perumpamaan “Kalimah Khobitsah” seperti “pohon yang buruk”, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan tanah, yang tak bisa tegak sedikitpun. (27) Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan pandangan hidup yang teguh itu ( Kalimah Thoyyibah ) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim, dan Allah mampu memperbuat apapun yang Dia kehendaki.”


B. Keistimewaan Rasa Malu

Rasa malu merupakan pengendali diri dari perbuatan yang terlarang dan tercela dalam kehidupan sehari-hari. Rasa malu mempunyai keistimewaan tersendiri dalam pandangan Islam, dan karenanya wajib dimiliki dan dibudayakan oleh tiap pribadi Muslim. Keistimewaan dimaksud mengacu pada Sabda Nabi sebagai berikut :

1. “AL-HAYAA-U SYU’BATUN MINAL IEMAN” = “Rasa malu adalah satu cabang dari pada Iman” ( H.R. Bukhari dan Muslim ).
2. “AL-HAYAA-U LAA YA’TII ILLA BI-KHAIRIN” = “Rasa malu takkan mendatangkan sesuatu selain kebaikan”( H.R. Muslim ).
3. “INNA MIMMAA ADROKA AN-NAASU MIN KALAAMI AN-NUBUWWATI IDZAA LAM TASTAHYI FASH-NA’ MAA SYI’TA” = “Sesungguhnya di antara apa yang mudah diketahui manusia dari perkataan nubuwwah ( kenabian ) ialah, “Jika kamu tak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu/semaunu” ( H.R. Bukhari ).
4. “AL-HAYAA-U HASANUN WALAAKIN FIN-NISAAA-I AHSANU” = “Rasa malu itu baik ( hasanun ) tetapi – rasa malu – di kalangan wanita adalah lebih baik ( ahsanu ). Hadits Riwayat Dailami.

C. Akibat Hilangnya Rasa Malu

Apa jadinya bila rasa malu sudah hilang atau lepas dari diri manusia ? Jawabannya bisa kita lihat secara garis besar dari mafhum mukhalafah Sabda Nabi tersebut di atas. Hal itu dapat kita rumuskan secara logis sebagai berikut :
1. Hilangnya rasa malu berarti memotong akhlak dari pangkalnya Iman ( Aqidah Tauhid ). Jati dirinya berubah menjadi orang nifaq ( Munafiq ) atau menjadi orang kufur ( Kufur Nikmat ). Berkata dusta atau melakukan kebohongan publik, melanggar janji dan menghianati amanah akan menjadi kebiasaannya, sebagai ciri khas perilaku kaum Munafiq.
2. Hilangnya rasa malu akan mendatangkan keburukan. Keburukan tersebut menimpa pribadi pelakunya mapun orang lain yang terkait dengannya. Contohnya : Seorang pejabat terhormat melakukan perbuatan zina atau korupsi misalnya. Jelas hal itu menjatuhkan nama baiknya, juga nama baik keluarga dan dapat menimbulkan citra buruk bagi intansinya sendiri.
3. Hilangnya rasa malu mendorong perbuatan sesuka hati atau semau-maunya. Istilah orang Betawi berbuat “semau gue” atau berbuat “seenak perutnya”. Bagi orang seperti itu halal atau haram sama saja. Dia hidup bebas, yakni bebas nilai. Pantangan MOLIMO ( Maling, Madon, Main, Madat/Mabok dan Mateni ) ditabrak semaunya dan merebak di mana-mana.
4. Hilangnya rasa malu pada kaum wanita akan berdampak lebih buruk. Hal ini merujuk pada kodrat wanita yang memiliki daya tarik tersendiri dalam kehidupan manusia ( Q.S. 3 : 14 ). Untuk itu Allah mengatur cara berpakaian dan batasan pergaulan dengan aturan Islam yang menjamin kehormatan, keamanan dan keselamatan dirinya. Pertanda hilangnya rasa malu pada wanita, terutama wanita muda, bisa kita saksikan dalam cara berpakaian. Wanita muda masa kini begitu “berani” dan “enjoy” saja berpamer aurat plus cara bersolek yang merangsang kaum pria. Musuh-musuh Islam sengaja memasarkan pakaian erotis kaum wanita dan gaya hidup bebas, menggulirkan budaya pornografi, pornoaksi dan prostitusi untuk menghancurkan Syari’at Islam.

D. Macam-macam Rasa Malu

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus-Salikin” ( Pendakian Menuju Allah ) mengutip pendapat seorang ulama bernama Al-Junaid. Menurut pendapatnya, rasa malu itu muncul karena melihat berbagai macam karunia Allah dan melihat keterbatasan diri sendiri. Pada hakikatnya rasa malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegah pengabaian dalam memenuhi hak-hak Allah. Selanjutnya Ibnu Qayyim membagi rasa malu itu menjadi sepuluh macam, yaitu : Malu karena berbuat salah, malu karena keterbatasan diri, malu karena pengagungan terhadap Rabb-nya, malu karena kehalusan budi, malu karena menjaga kesopanan, malu karena merasa diri terlalu hina, malu karena cinta, malu karena kemuliaan jiwanya, dan malu terhadap diri sendiri. Malu terhadap diri sendiri merupakan rasa malu paling utama, sebab seseorang yang malu terhadap diri sendiri maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.

Selanjutnya, dalam hubungannya dengan Iman, Ibnu Qayyim membagi rasa malu kepada tiga derajat : Pertama, malu karena seorang hamba tahu bahwa Allah melihat dirinya. Lalu mendorong dirinya untuk cinta kepada-Nya, dan karenanya ia urung mengadu kepada selain Allah yang dicintainya itu. Kedua, malu karena merasakan kebersamaan dengan Allah. Rasa malunya itu menumbuhkan cinta dan tidak bergantung kepada makhluk. Ketiga, malu karena sudah mampu melepaskan ruh dan hatinya dari makhluk. Jika ruh dan hati sudah bersama Pencipta semua makhluk maka ia akan merasakan kedekatan dengan-Nya dan seakan bisa menyaksikan-Nya secara langsung. Tidak ada lagi kekhawatiran untuk berpisah dengan-Nya, dan di hatinya tidak ada sesuatu yang lain selain Allah. Mengenai malu tingkatan kedua ( malu karena merasakan kebersamaan dengan Allah ) Ibnu Qayyim membaginya lagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :
1. Kebersamaan secara umum, yaitu kebersamaan ilmu dan keikut-sertaan. Hal ini mengacu pada Firman Allah dalam Surah Al-Hadid ( Q.S. 57 ) ayat 4


”dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
2. Kebersamaan secara khusus, yaitu kebersamaan Allah dan kedekatan dengan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, berihsan, dan bersama orang-orang sabar ( Q.S. 16/128, 2/153 ).

”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” ( Q.S. 16 : 128 )


E. Meningkatkan Rasa Malu

Sebuah Hadits Qudtsi ( Atsar Ilahi ) menyatakan : “Hamba-Ku benar-benar tidak adil terhadap-Ku. Dia berdo’a kepada-Ku dan Aku “malu” untuk tidak mengabulkannya, namun dia durhaka kepada-Ku dan dia tidak malu kepada-Ku”. Begitulah, sentuhan ruhani seperti itu menuntut kita agar benar-benar punya rasa malu kepada-Nya. Untuk itu perlu kita cari jalan agar menjadi hamba Allah yang benar-benar sadar diri dan memiliki rasa malu, dari waktu ke waktu.

Ada nasihat yang tepat dari nasihat orang arif yang dikutip oleh Ibnu Qayyim. Nasihat tersebut artinya sebagai berikut : “Hidupkanlah rasa malu dengan berkumpul bersama orang-orang yang mempunyai rasa malu. Hidupkanlah hati dengan kemuliaan dan rasa malu. Jika keduanya hilang dari hati, maka di dalamnya tak ada lagi kebaikan yang tersisa”. Subahanallah, marilah kita ikuti nasihat tersebut sekarang juga, dan memulainya dari diri kita masing-masing. Seiring dengan itu kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita, khususnya Shalat agar hati kita selalu dekat kepada Allah, seraya mengabulkan jeritan hati kita yang selalu mengharapkan ridho dan kasih sayang-Nya. Untuk itu Nabi Saw menggugah kesadaran kita dengan sabdanya : “Keadaan hamba yang paling dekat dengan Rabbnya ialah ketika dia bersujud, dan saat yang paling dekat antara Rabb dengan hamba-Nya ialah pada tengah malam” ( H. R. Muslim dan Tirmidzi ).

Wallohu a’lam bish-showabb !

H. U. Syamsuddin MZ.

Selengkapnya.....

MAKNA “RAHMATAN LIL ‘ALAMIEN”

“Dan tidaklah Kami mengutusmu ( menurunkan risalah ) melainkan untuk membawa "rahmat” bagi “semesta alam”. Katakanlah, “sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhan kalian hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kalian menjadi manusia yang berserah diri” ( Q.S. 21 [ Al-Anbiya ] ayat 107 – 108 )

A. KATA-KATA KUNCI

Pada kalimat “RAHMATAN LIL ‘AALAMIEN” terdapat dua kata kunci, yaitu “RAHMAT” dan “AL-‘ALAMIEN”. Apa itu “rahmat”, dan apa itu “‘alam” ?



“Rahmat” ( “Rahmah” ) mengandung makna “kasih sayang”, “kemudahan”, “kelapangan”, “kenyamanan”, dan sebagainya. “Rahmat” terkait dengan kedudukan, keistimewaan dan peran seorang insan kamil yang bernama Muhammad Rasulullah Saw. Rasulullah artinya “Utusan Allah” atau “Pembawa Risalah Allah”. Risalah Allah ialah Wahyu yang telah diterima dan membentuk kepribadian Muhammad. Itulah Ajaran Al-Qur’an, Al-Islam atau Dinul Islam. Diangkatnya beliau sebagai Rasulullah adalah untuk membawa “Rahmah”.

“Alam” atau “Al-‘Alamien” mengandung makna umum dan makna khusus. Makna umum ialah “semesta alam”, terkait dengan kedudukan Allah sebagai “Rab al ‘Alamien”. Makna khusus ialah “umat manusia” atau “bangsa-bangsa” di dunia, terkait dengan kedudukan Allah sebagai “Rabb an-Nas”. Pemakaian kata “al-‘Alamien” dalam arti “bangsa-bangsa” atau makna khusus tersebut misalnya dalam Q.S. 2/47, Q.S. 3/42 ( contoh lain : Q.S. 5/20, 29/10 dll ).

Istilah “Rahmatan lil ‘Alamien” mengandung makna duanya-duanya, sehingga potongan ayat tersebut bisa bermakna “rahmat bagi umat manusia dan alam sekitarnya”.

B. PRINSIP TAUHID, REALITA ALAM DAN ESENSI RISALAH ISLAM

Yang Maha Memberi Rahmat tiada lain kecuali Allah, terkait dengan Asma-Nya, “Ar-Rahman” ( = Yang Maha Pemurah/Pengasih ) dan “Ar-Rahiem” ( = Yang Maha Penyayang ). Pada ayat berikutnya ( Q.S. 21 : 108 ) diisyaratkan bahwa rahmat yang dibawa oleh Rasulullah akan diperoleh oleh umat manusia atau bangsa-bangsa di dunia serta alam sekitarnya. Hal itu akan terkondisikan secara total apabila manusia bersikap Islami dan berpegang teguh pada inti Wahyu yang diterima oleh Rasulullah. Intinya ialah Kalimah Tauhid atau Kalimatul-Haq : LA ILAHA ILLALLAH.

Al-Qur’an menunjukan bahwa alam semesta ( termasuk fisik manusia ) semuanya sudah “ber-Islam”( 3/83 ), “Sujud” ( 22/18, 16/49, 13/15, 55/6 ), “Tha’at” ( 41/11 ), “Tasbih” ( 24/41, 57/1, 62 /1, 17/11, 13/13 ), “Ihsan” ( 32/7, 40/64, 64/3 ), “Tawazun” ( 55/7, 15/19 ), dan “Ajwaz” ( 36/36 ), dan sebagainya. Sikap dan gerak alam fisik seperti itu adalah konsekuensi dari prinsip mereka yang hanya “mempertuhan Allah” atau “ber-Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itulah “wahyu” yang “in action” pada tatanan langit, bumi, dan makhluk hidup ( 41/11-12, 94/5, 16/68-69, ).

Para ilmuwan mengakui kebenaran Al-Qur’an tentang fakta-fakta yang menjunjukan realita alam. Mereka mengenal hukum keseimbangan alam ; hukum gravitasi, hukum electro magnetic, hukum energi, dan sebagainya. Berkenaan dengan wujud keseimbangan alam semesta, Allah Swt memperingatkan agar manusia jangan sampai merusak keseimbangan alam tersebut ( 55/7 ). Hal ini terkait dengan fungsi manusia sebagai “khalifatullah fil ardhi”, yakni sebagai pemegang amanah Allah di muka bumi. Tiap insan berasal dari tanah bumi dan berkewajiban untuk memakmurkannya ( 11/61 ), sekaligus berkewajiban untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian potensi alam. Selain itu Allah menghendaki agar mereka yang menguasi asset kekayaan dengan melakukan distribusi rejeki atau kekayaannya secara merata ( 30/28, 16/71 ). Jangan sampai harta kekayaan itu hanya berputar-putar atau dimonopoli oleh kelompok elit dan kaum agniya belaka ( 59/7 ).

Itulah prinsip risalah Islam dalam konteks pengelolaan alam ( ekosistem ) dan pendistribusian hasil-hasilnya yang diarahkan demi kesejahteraan bersama ( sosiosistem ).

C. AKTUALISASI “RAHMATAN LIL ‘ALAMIEN”

Umat Islam menempati posisi sebagai pewaris Kitab Al-Qur’an ( Sumber utama Risalah Allah ) walaupun memiliki kualitas yang berbeda-beda ( 35/31-32 ). Sedangkan mereka yang memenuhi syarat sebagai penyebar misi “ramatan lil-‘alamien” adalah hamba-hamba Allah yang tergolong pelopor kebaikan ( Sabiqun bil-khairat bi-idznillah ). Itulah mereka yang beriman dan bertaqwa, yang konsisten pada Aqidah Tauhid. Mereka adalah warga desa, kota dan warga negara yang kondusif untuk mendatangkan barokah dari Allah melalui potensi langit dan bumi ( Q.S. 7/197 ).

Rasulullah sebagai teladan utama bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa memiliki akhlak dalam bingkai “rahmatan lil ‘alamien” sebagai berikut :

Beliau berperangai lemah lembut, tidak kasar, tidak keras kepala, berjiwa pemaaf, pengampun, menghargai keputusan musyawarah dalam urusan publik, istiqamah dan tawakal ( 3/159 ). Beliau bersama orang-orang beriman ( para sahabat ) bersikap tegas terhadap orang-orang kafir ( tegas dalam mempertahankan prinsip ) dan berkasih sayang antar sesamanya ( 48/29, 5/54 ).

Berkenaan dengan dunia flora dan fauna, beliau mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, kesehatan, melestarikan pepohonan, memelihara hewan dengan mengindahkan hak-hak mereka. Beliau melarang menyakiti dan menyiksa kucing atau anjing sekalipun. .

Komitmen muslim dalam mengemban misi “rahmatan lil ‘alamien” diperkuat oleh tuntunan dan ketentuan Nabi Saw sebagai berikut :

Pertama, dalam menangani urusan sehari-hari hendaklah dimulai dengan “Basmalah” ( = “Bismillah al-Rohmani al-Rohiem” ). Sabda Nabi, “Tiap urusan yang tidak dimulai ( tidak didasari ) oleh ‘Bismillah ar-Rohman ar-Rahiem” maka dia akan terputus ( tidak barokah )”. Kalimah “Basmalah” tersebut menyadarkan posisi muslim sebagai khalifah dan hamba Allah, yang harus tampil di mana saja dan kapan saja dengan mengedepankan sifat kasih sayang atau dengan kata lain memancarkan semangat “rahmatan lil ‘alamien”.

Kedua, mengucapkan dan menghayati do’a “Salam” ( “Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wa-barokatuh” ). Ucapan tersebut mencerminkan kerinduan tiap pribadi muslim agar orang-orang yang dihadapinya memperoleh curahan rohmat dan barokah dari Allah ( “As-Salaam” ).

Wallahu a’lam bish-showab !

H. U. Syamsuddin MZ


Selengkapnya.....

ANAK SHALEH DAN JASA UTAMA ORANGTUA

Tiap orangtua pasti mengharapkan punya anak yang baik-baik atau anak yang shaleh ( waladun shalih ). Anak yang baik-baik itu ciri utamanya ialah bersikap dan berbuat baik terhadap ibu dan bapaknya ( Birrul Walidain ). Hal itu dikemukakan pada awal ayat yang terpampang di atas, yakni Surah Al-Ahqaf ayat 15. Coba perhatikan ! Awal ayat tersebut berbunyi sebagai berikut :

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah pula. Ia mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan,…”


Ayat serupa antara lain terdapat dalam Surah Luqman ( Q.S. 31 ) ayat 14 :

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang semakin lemah ( serba lemah ), dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku-lah ( Allah ) hendaknya kamu kembali”

Bagi orangtua yang beriman, anak shaleh bukanlah semata-mata sebagai anak biologis atau anak kandung melainkan sebagai anak ideologis, yakni anak yang terlahir dari proses pendidikan Islami yang terkondisikan sejak dini. Idealnya sejak mencari jodoh yang berlanjut pada pernikahan dan pembentukan keluarga “Asmara” : As-Sakinah, Mawaddah wa-Rohmah. Anak yang tumbuh kembang menjadi remaja dan seterusnya memiliki empati luar biasa terhadap orangtua mereka, terutama mengingat jasa ibunya yang sudah bersusah payah mengandung ( hamil ), melahirkan, dan menyusuinya dalam batas waktu – maksimal – dua tahun.

Seiring dengan itu hendaklah berlangsung proses pengasuhan dan pendidikan ( proses tarbiyah ) usia dini dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang orang tua, terutama kasih sayang ibu kandung adalah percikan kasih sayang Allah ( Ar-Rahiem ) yang tak mungkin setara dan terbalaskan oleh kasih sayang anak kepada orangtuanya, walaupun si anak selalu berbuat baik seoptimal mungkin, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah dan mensyukuri nikmat Allah yang dikaruniakan melalui orangtuanya ( Q.S. 46/15, 31/14 ). Al-Qur’an menunjukkan bahwa berbuat baik kepada orangtua itu menjadi ujian tersendiri ketika mereka sudah lansia. Perhatikan ayat Q.S. 17/23-24, Ayat itu memberikan tuntunan, bagaimana sikap anak ketika orangtuanya sudah lansia, yang salah satunya atau dua-duanya berada di sisi anaknya ( bertempat-tinggal serumah dengan anaknya ). Allah memberikan tuntunan akhlak sebagai berikut :

1. Dalam bertutur kata, ada tiga ketentuan, yaitu a) jangan mengeluarkan kata-kata “up”, sebagai kata-kata yang menyinggung perasaannya, b) jangan pernah membentaknya, dan c) hendaklah berucap dengan “ucapan yang mulia dan memuliakan” ( Qaulan karima ).
2. Hendaklah merendahkan diri ( rendah hati ) terhadap orang tua sebagai cerminan kasih sayang, dan berdo’alah : “Robbi, curahkanlah kasih sayang ( rohmat-Mu ) kepada mereka berdua, sebagaimana ia telah mengasuh dan mendidikku ( tarbiyah ) waktu kecil”.
3. Dalam do’a tersebut di atas tersirat dua buah isyarat : Pertama, sebuah pengakuan dari pihak anak bahwa ia tak mampu membalas budi atau kasih sayang orangtua, terutama kasih sayang mereka ketika mengasuh dan mendidiknya waktu kecil ( usia dini ). Kedua, tersirat adanya hak anak agar ia memperoleh proses pengasuhan dan pendidikan sejak usia dini, dengan penuh kasih sayang.

B. HIKMAH UMUR 40 TAHUN

Ketika sudah dewasa dan berumur 40 tahun, melalui do’a yang Allah ajarkan dalam Q.S. 46/15 itu tercermin keteguhan sikap pribadi muslim yang Allah ridhoi dalam menyikapi masa lalu dan pilihan masa depan, yang butir-butirnya sebagai berikut :
1. Mampu mensyukuri segala nikmat Allah dan nikmat yang Ia curahkan melalui ibu bapak.
2. Mampu beramal kebaikan ( amal shaleh ) yang Allah ridhoi.
3. Memohon kebaikan dan perbaikan ( ishlah ) bagi dirinya dan anak cucunya ( keturunan ).
4. Menyatakan sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah.
5. Menjadi bagian tak terpisahkan dari kaum Muslimin ( orang-orang yang ber-Islam ).

Menurut Ilmu Psikologi Perkembangan, batasan umur dewasa mempunyai tiga tahapan ( versi Levinson, 1978 ), yaitu : (1) dewasa awal ( 17 – 45 ), (2) dewasa madya ( 40 – 65 ), dan (3) dewasa akhir ( 60 tahun ke atas ) *. Pendapat lain mengatakan bahwa antara umur 30 - 40 tahun adalah pencapaian kematangan yang baik **. Kita yakin bahwa Allah mengemukakan secara tersurat dalam Al-Qur’an tentang umur 40 tahun, hal itu mengandung hikmah tersendiri.

Secara umum, pada tahap umur dewasa madya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu (1) “integritas ego” atau (2) “keputus-asaan”. Bila seseorang dalam rentang masa dewasanya tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya dan penuh pesimistis maka ia akan mengalami “keputus-asaan” di masa dewasa akhir. ***. Wallahu a’lam bil-murodih !


* / *** Sumber : Arif Ainur Rofiq, “ Sistematika Psikologi Perkembangan Islami.
** Sumber : Abdullah Yusuf Ali, “The Holy Qur’an” ( lihat Catatan


Selengkapnya.....

Tuesday, February 12, 2008

MISTERI DO’A USIA 40 TAHUN




…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun dia berdoa : "Ya Tuhanku, berikan kemampuan kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku, dan supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan karuniakan kebaikan kepadaku - yang berdampak kebaikan - pada anak cucuku. Aku sungguh-sungguh bertaubat kepada-Mu, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri" ( Q.S. 46 [ Al-Ahqaf ] ayat 15 )


Oleh : H.U. Syamsuddin MZ.


Selengkapnya.....

Friday, February 8, 2008