Thursday, February 14, 2008

MAKNA “RAHMATAN LIL ‘ALAMIEN”

“Dan tidaklah Kami mengutusmu ( menurunkan risalah ) melainkan untuk membawa "rahmat” bagi “semesta alam”. Katakanlah, “sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa Tuhan kalian hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kalian menjadi manusia yang berserah diri” ( Q.S. 21 [ Al-Anbiya ] ayat 107 – 108 )

A. KATA-KATA KUNCI

Pada kalimat “RAHMATAN LIL ‘AALAMIEN” terdapat dua kata kunci, yaitu “RAHMAT” dan “AL-‘ALAMIEN”. Apa itu “rahmat”, dan apa itu “‘alam” ?



“Rahmat” ( “Rahmah” ) mengandung makna “kasih sayang”, “kemudahan”, “kelapangan”, “kenyamanan”, dan sebagainya. “Rahmat” terkait dengan kedudukan, keistimewaan dan peran seorang insan kamil yang bernama Muhammad Rasulullah Saw. Rasulullah artinya “Utusan Allah” atau “Pembawa Risalah Allah”. Risalah Allah ialah Wahyu yang telah diterima dan membentuk kepribadian Muhammad. Itulah Ajaran Al-Qur’an, Al-Islam atau Dinul Islam. Diangkatnya beliau sebagai Rasulullah adalah untuk membawa “Rahmah”.

“Alam” atau “Al-‘Alamien” mengandung makna umum dan makna khusus. Makna umum ialah “semesta alam”, terkait dengan kedudukan Allah sebagai “Rab al ‘Alamien”. Makna khusus ialah “umat manusia” atau “bangsa-bangsa” di dunia, terkait dengan kedudukan Allah sebagai “Rabb an-Nas”. Pemakaian kata “al-‘Alamien” dalam arti “bangsa-bangsa” atau makna khusus tersebut misalnya dalam Q.S. 2/47, Q.S. 3/42 ( contoh lain : Q.S. 5/20, 29/10 dll ).

Istilah “Rahmatan lil ‘Alamien” mengandung makna duanya-duanya, sehingga potongan ayat tersebut bisa bermakna “rahmat bagi umat manusia dan alam sekitarnya”.

B. PRINSIP TAUHID, REALITA ALAM DAN ESENSI RISALAH ISLAM

Yang Maha Memberi Rahmat tiada lain kecuali Allah, terkait dengan Asma-Nya, “Ar-Rahman” ( = Yang Maha Pemurah/Pengasih ) dan “Ar-Rahiem” ( = Yang Maha Penyayang ). Pada ayat berikutnya ( Q.S. 21 : 108 ) diisyaratkan bahwa rahmat yang dibawa oleh Rasulullah akan diperoleh oleh umat manusia atau bangsa-bangsa di dunia serta alam sekitarnya. Hal itu akan terkondisikan secara total apabila manusia bersikap Islami dan berpegang teguh pada inti Wahyu yang diterima oleh Rasulullah. Intinya ialah Kalimah Tauhid atau Kalimatul-Haq : LA ILAHA ILLALLAH.

Al-Qur’an menunjukan bahwa alam semesta ( termasuk fisik manusia ) semuanya sudah “ber-Islam”( 3/83 ), “Sujud” ( 22/18, 16/49, 13/15, 55/6 ), “Tha’at” ( 41/11 ), “Tasbih” ( 24/41, 57/1, 62 /1, 17/11, 13/13 ), “Ihsan” ( 32/7, 40/64, 64/3 ), “Tawazun” ( 55/7, 15/19 ), dan “Ajwaz” ( 36/36 ), dan sebagainya. Sikap dan gerak alam fisik seperti itu adalah konsekuensi dari prinsip mereka yang hanya “mempertuhan Allah” atau “ber-Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itulah “wahyu” yang “in action” pada tatanan langit, bumi, dan makhluk hidup ( 41/11-12, 94/5, 16/68-69, ).

Para ilmuwan mengakui kebenaran Al-Qur’an tentang fakta-fakta yang menjunjukan realita alam. Mereka mengenal hukum keseimbangan alam ; hukum gravitasi, hukum electro magnetic, hukum energi, dan sebagainya. Berkenaan dengan wujud keseimbangan alam semesta, Allah Swt memperingatkan agar manusia jangan sampai merusak keseimbangan alam tersebut ( 55/7 ). Hal ini terkait dengan fungsi manusia sebagai “khalifatullah fil ardhi”, yakni sebagai pemegang amanah Allah di muka bumi. Tiap insan berasal dari tanah bumi dan berkewajiban untuk memakmurkannya ( 11/61 ), sekaligus berkewajiban untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian potensi alam. Selain itu Allah menghendaki agar mereka yang menguasi asset kekayaan dengan melakukan distribusi rejeki atau kekayaannya secara merata ( 30/28, 16/71 ). Jangan sampai harta kekayaan itu hanya berputar-putar atau dimonopoli oleh kelompok elit dan kaum agniya belaka ( 59/7 ).

Itulah prinsip risalah Islam dalam konteks pengelolaan alam ( ekosistem ) dan pendistribusian hasil-hasilnya yang diarahkan demi kesejahteraan bersama ( sosiosistem ).

C. AKTUALISASI “RAHMATAN LIL ‘ALAMIEN”

Umat Islam menempati posisi sebagai pewaris Kitab Al-Qur’an ( Sumber utama Risalah Allah ) walaupun memiliki kualitas yang berbeda-beda ( 35/31-32 ). Sedangkan mereka yang memenuhi syarat sebagai penyebar misi “ramatan lil-‘alamien” adalah hamba-hamba Allah yang tergolong pelopor kebaikan ( Sabiqun bil-khairat bi-idznillah ). Itulah mereka yang beriman dan bertaqwa, yang konsisten pada Aqidah Tauhid. Mereka adalah warga desa, kota dan warga negara yang kondusif untuk mendatangkan barokah dari Allah melalui potensi langit dan bumi ( Q.S. 7/197 ).

Rasulullah sebagai teladan utama bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa memiliki akhlak dalam bingkai “rahmatan lil ‘alamien” sebagai berikut :

Beliau berperangai lemah lembut, tidak kasar, tidak keras kepala, berjiwa pemaaf, pengampun, menghargai keputusan musyawarah dalam urusan publik, istiqamah dan tawakal ( 3/159 ). Beliau bersama orang-orang beriman ( para sahabat ) bersikap tegas terhadap orang-orang kafir ( tegas dalam mempertahankan prinsip ) dan berkasih sayang antar sesamanya ( 48/29, 5/54 ).

Berkenaan dengan dunia flora dan fauna, beliau mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan, keindahan, kesehatan, melestarikan pepohonan, memelihara hewan dengan mengindahkan hak-hak mereka. Beliau melarang menyakiti dan menyiksa kucing atau anjing sekalipun. .

Komitmen muslim dalam mengemban misi “rahmatan lil ‘alamien” diperkuat oleh tuntunan dan ketentuan Nabi Saw sebagai berikut :

Pertama, dalam menangani urusan sehari-hari hendaklah dimulai dengan “Basmalah” ( = “Bismillah al-Rohmani al-Rohiem” ). Sabda Nabi, “Tiap urusan yang tidak dimulai ( tidak didasari ) oleh ‘Bismillah ar-Rohman ar-Rahiem” maka dia akan terputus ( tidak barokah )”. Kalimah “Basmalah” tersebut menyadarkan posisi muslim sebagai khalifah dan hamba Allah, yang harus tampil di mana saja dan kapan saja dengan mengedepankan sifat kasih sayang atau dengan kata lain memancarkan semangat “rahmatan lil ‘alamien”.

Kedua, mengucapkan dan menghayati do’a “Salam” ( “Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wa-barokatuh” ). Ucapan tersebut mencerminkan kerinduan tiap pribadi muslim agar orang-orang yang dihadapinya memperoleh curahan rohmat dan barokah dari Allah ( “As-Salaam” ).

Wallahu a’lam bish-showab !

H. U. Syamsuddin MZ


0 comments: