“Iman mempunyai enam puluh atau tujuh puluh cabang lebih. Pangkal utamanya ( akar tunggang Iman ) ialah pandangan hidup “Laa Ilaaha Illallah”, dan yang paling rendah ( rantingnya Iman ) ialah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah satu cabang dari Iman“ ( Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim )
A. Rasa Malu sebagai Cabang Iman
Sabda Nabi di atas memberikan gambaran tentang cabang-cabang dan ranting Iman yang tumbuh di atas pangkalnya. Ibarat sebuah pohon, yang terdiri dari akar, cabang dan ranting. Pandangan dan keyakinan hidup dengan rumusan “Laa Ilaaha Illallah” ( = Tiada “Ilah” selain Allah ) adalah merupakan akar tunggang atau pangkal utama dari “pohon Iman” itu. Itulah “Kalimah Tauhid” atau “Kalimah al-Haq”. Sedangkan cabang-cabangnya atau manifestasi Iman dalam wujud sikap dan perilaku Mukmin begitu banyak, hingga mencapai 60 atau 70 cabang lebih. Salah satu cabang Iman yang begitu penting ialah Al-Hayaa ( Rasa Malu ). Inilah yang akan kita pahami lebih lanjut. Pada Hadits di atas dikemukakan pula satu contoh ranting Iman, sebagai akhlak paling sederhana, yaitu “menyingkirkan duri dari jalan”. Walau sederhana tapi mempunyai nilai sedekah, sesuai sabda Nabi Saw pada Hadits lain, yang artinya : “Singkirkanlah duri dari jalan, maka dengan itu kamu sudah bersedekah” ( H. R. Bukhari ). Menyingkirkan duri atau gangguan dari jalan mengandung makna yang lebih luas yaitu mengajarkan pentingnya kebersihan, kenyamanan, dan ketertiban lingkungan. Nabi pun bersabda : “Menjaga kebersihan adalah bagian dari Iman”.
Cara Nabi Saw menjelaskan Iman dengan mengaosiasikan kepada sebuah pohon yang tak asing bagi manusia adalah merupakan aktualisasi dari cara Allah menjelaskan masalah yang sama. Coba kita perhatikan Firman Allah dalam Surah Ibrahim ( Q.S. 14 ) ayat 24 – 25
“(24) Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan “Kalimah Thoyyibah” seperti “pohon yang baik” ; akarnya teguh ( tertanam kuat ) dan cabangnya ( menjulang ) ke langit. (25) Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan untuk manusia supaya mereka selalu ingat. “
Pada ayat berikutnya Allah menggambarkan “Kalimah Khobitsah” sebagai kebalikan “Kalimah Thoyyibah” yang digambarkan bagaikan “pohon yang buruk” ( ayat 26 ). Sedangkan orang-orang beriman konsisten pada “Kalimah Thayyibah” dalam bidang duniawi maupun ukhrawi ( ayat 27 ).
”(26) Dan perumpamaan “Kalimah Khobitsah” seperti “pohon yang buruk”, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan tanah, yang tak bisa tegak sedikitpun. (27) Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan pandangan hidup yang teguh itu ( Kalimah Thoyyibah ) dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim, dan Allah mampu memperbuat apapun yang Dia kehendaki.”
B. Keistimewaan Rasa Malu
Rasa malu merupakan pengendali diri dari perbuatan yang terlarang dan tercela dalam kehidupan sehari-hari. Rasa malu mempunyai keistimewaan tersendiri dalam pandangan Islam, dan karenanya wajib dimiliki dan dibudayakan oleh tiap pribadi Muslim. Keistimewaan dimaksud mengacu pada Sabda Nabi sebagai berikut :
1. “AL-HAYAA-U SYU’BATUN MINAL IEMAN” = “Rasa malu adalah satu cabang dari pada Iman” ( H.R. Bukhari dan Muslim ).
2. “AL-HAYAA-U LAA YA’TII ILLA BI-KHAIRIN” = “Rasa malu takkan mendatangkan sesuatu selain kebaikan”( H.R. Muslim ).
3. “INNA MIMMAA ADROKA AN-NAASU MIN KALAAMI AN-NUBUWWATI IDZAA LAM TASTAHYI FASH-NA’ MAA SYI’TA” = “Sesungguhnya di antara apa yang mudah diketahui manusia dari perkataan nubuwwah ( kenabian ) ialah, “Jika kamu tak punya rasa malu maka berbuatlah sesukamu/semaunu” ( H.R. Bukhari ).
4. “AL-HAYAA-U HASANUN WALAAKIN FIN-NISAAA-I AHSANU” = “Rasa malu itu baik ( hasanun ) tetapi – rasa malu – di kalangan wanita adalah lebih baik ( ahsanu ). Hadits Riwayat Dailami.
C. Akibat Hilangnya Rasa Malu
Apa jadinya bila rasa malu sudah hilang atau lepas dari diri manusia ? Jawabannya bisa kita lihat secara garis besar dari mafhum mukhalafah Sabda Nabi tersebut di atas. Hal itu dapat kita rumuskan secara logis sebagai berikut :
1. Hilangnya rasa malu berarti memotong akhlak dari pangkalnya Iman ( Aqidah Tauhid ). Jati dirinya berubah menjadi orang nifaq ( Munafiq ) atau menjadi orang kufur ( Kufur Nikmat ). Berkata dusta atau melakukan kebohongan publik, melanggar janji dan menghianati amanah akan menjadi kebiasaannya, sebagai ciri khas perilaku kaum Munafiq.
2. Hilangnya rasa malu akan mendatangkan keburukan. Keburukan tersebut menimpa pribadi pelakunya mapun orang lain yang terkait dengannya. Contohnya : Seorang pejabat terhormat melakukan perbuatan zina atau korupsi misalnya. Jelas hal itu menjatuhkan nama baiknya, juga nama baik keluarga dan dapat menimbulkan citra buruk bagi intansinya sendiri.
3. Hilangnya rasa malu mendorong perbuatan sesuka hati atau semau-maunya. Istilah orang Betawi berbuat “semau gue” atau berbuat “seenak perutnya”. Bagi orang seperti itu halal atau haram sama saja. Dia hidup bebas, yakni bebas nilai. Pantangan MOLIMO ( Maling, Madon, Main, Madat/Mabok dan Mateni ) ditabrak semaunya dan merebak di mana-mana.
4. Hilangnya rasa malu pada kaum wanita akan berdampak lebih buruk. Hal ini merujuk pada kodrat wanita yang memiliki daya tarik tersendiri dalam kehidupan manusia ( Q.S. 3 : 14 ). Untuk itu Allah mengatur cara berpakaian dan batasan pergaulan dengan aturan Islam yang menjamin kehormatan, keamanan dan keselamatan dirinya. Pertanda hilangnya rasa malu pada wanita, terutama wanita muda, bisa kita saksikan dalam cara berpakaian. Wanita muda masa kini begitu “berani” dan “enjoy” saja berpamer aurat plus cara bersolek yang merangsang kaum pria. Musuh-musuh Islam sengaja memasarkan pakaian erotis kaum wanita dan gaya hidup bebas, menggulirkan budaya pornografi, pornoaksi dan prostitusi untuk menghancurkan Syari’at Islam.
D. Macam-macam Rasa Malu
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitabnya “Madarijus-Salikin” ( Pendakian Menuju Allah ) mengutip pendapat seorang ulama bernama Al-Junaid. Menurut pendapatnya, rasa malu itu muncul karena melihat berbagai macam karunia Allah dan melihat keterbatasan diri sendiri. Pada hakikatnya rasa malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan keburukan dan mencegah pengabaian dalam memenuhi hak-hak Allah. Selanjutnya Ibnu Qayyim membagi rasa malu itu menjadi sepuluh macam, yaitu : Malu karena berbuat salah, malu karena keterbatasan diri, malu karena pengagungan terhadap Rabb-nya, malu karena kehalusan budi, malu karena menjaga kesopanan, malu karena merasa diri terlalu hina, malu karena cinta, malu karena kemuliaan jiwanya, dan malu terhadap diri sendiri. Malu terhadap diri sendiri merupakan rasa malu paling utama, sebab seseorang yang malu terhadap diri sendiri maka dia lebih layak untuk merasa malu terhadap orang lain.
Selanjutnya, dalam hubungannya dengan Iman, Ibnu Qayyim membagi rasa malu kepada tiga derajat : Pertama, malu karena seorang hamba tahu bahwa Allah melihat dirinya. Lalu mendorong dirinya untuk cinta kepada-Nya, dan karenanya ia urung mengadu kepada selain Allah yang dicintainya itu. Kedua, malu karena merasakan kebersamaan dengan Allah. Rasa malunya itu menumbuhkan cinta dan tidak bergantung kepada makhluk. Ketiga, malu karena sudah mampu melepaskan ruh dan hatinya dari makhluk. Jika ruh dan hati sudah bersama Pencipta semua makhluk maka ia akan merasakan kedekatan dengan-Nya dan seakan bisa menyaksikan-Nya secara langsung. Tidak ada lagi kekhawatiran untuk berpisah dengan-Nya, dan di hatinya tidak ada sesuatu yang lain selain Allah. Mengenai malu tingkatan kedua ( malu karena merasakan kebersamaan dengan Allah ) Ibnu Qayyim membaginya lagi menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut :
1. Kebersamaan secara umum, yaitu kebersamaan ilmu dan keikut-sertaan. Hal ini mengacu pada Firman Allah dalam Surah Al-Hadid ( Q.S. 57 ) ayat 4
”dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.”
2. Kebersamaan secara khusus, yaitu kebersamaan Allah dan kedekatan dengan hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, berihsan, dan bersama orang-orang sabar ( Q.S. 16/128, 2/153 ).
•
”Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” ( Q.S. 16 : 128 )
E. Meningkatkan Rasa Malu
Sebuah Hadits Qudtsi ( Atsar Ilahi ) menyatakan : “Hamba-Ku benar-benar tidak adil terhadap-Ku. Dia berdo’a kepada-Ku dan Aku “malu” untuk tidak mengabulkannya, namun dia durhaka kepada-Ku dan dia tidak malu kepada-Ku”. Begitulah, sentuhan ruhani seperti itu menuntut kita agar benar-benar punya rasa malu kepada-Nya. Untuk itu perlu kita cari jalan agar menjadi hamba Allah yang benar-benar sadar diri dan memiliki rasa malu, dari waktu ke waktu.
Ada nasihat yang tepat dari nasihat orang arif yang dikutip oleh Ibnu Qayyim. Nasihat tersebut artinya sebagai berikut : “Hidupkanlah rasa malu dengan berkumpul bersama orang-orang yang mempunyai rasa malu. Hidupkanlah hati dengan kemuliaan dan rasa malu. Jika keduanya hilang dari hati, maka di dalamnya tak ada lagi kebaikan yang tersisa”. Subahanallah, marilah kita ikuti nasihat tersebut sekarang juga, dan memulainya dari diri kita masing-masing. Seiring dengan itu kita harus meningkatkan kualitas ibadah kita, khususnya Shalat agar hati kita selalu dekat kepada Allah, seraya mengabulkan jeritan hati kita yang selalu mengharapkan ridho dan kasih sayang-Nya. Untuk itu Nabi Saw menggugah kesadaran kita dengan sabdanya : “Keadaan hamba yang paling dekat dengan Rabbnya ialah ketika dia bersujud, dan saat yang paling dekat antara Rabb dengan hamba-Nya ialah pada tengah malam” ( H. R. Muslim dan Tirmidzi ).
Wallohu a’lam bish-showabb !
H. U. Syamsuddin MZ.
0 comments:
Post a Comment